mapay jagat… meuntas sagara… ngalayang di awang-awang…

Catatan dari Kampoeng (01) – “Aku Mau Jadi Dokter”

Btw, judulnya klise ga sih? Nggak lah ya.

Kayaknya sebagian besar anak-anak kalau ditanya cita-cita pasti deh jawabnya mau jadi dokter lah, jadi insinyur lah, jadi pilot lah atau jadi polisi. Nggak ada tuh yang mau jadi relawan, jurnalis, atau blogger. Kalah ngetren kali yah! (Aku juga dulu gitu sih sampai suatu hari kena tilang trus dibodohin untuk ‘sidang’ di tempat. Ups!).

Nah, itu juga yang terjadi waktu saya dan rekan-rekan Tim Kampoeng Bangkit berkunjung ke Kampung Pojok Mekarsari, Lembang. (Cocok deh sama namanya. Bener-bener mojok nih kampung). Setelah silaturahim dengan salah seorang kader (red. kader bangkit), kami diminta untuk bertemu dengan adik-adik pengajian di sana. Ya sekedar ngobrol lah atau nemenin mereka ngaji sebelum kami kembali ke Bandung.

Sore itu ada sekitar 15 anak yang datang mengaji, jauh lebih sedikit dari biasanya. Di salah satu sesi, saya penasaran untuk menanyakan cita-cita mereka kelak. Dan seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya. Jawaban mereka ga’ jauh-jauh dari kata polisi, insinyur, tentara, dokter, dan guru. Biasa lah ya. Di antara ke-15 anak itu ada seorang anak yang membuat saya tertarik. Mela namaya, kelas V SD.

Ketika saya bertanya, “Kamu mau jadi apa?”, dia menjawab “Aku mau jadi dokter”.

Saya tidak tertarik dengan jawabannya, tapi saya tertarik dengan cara dia menjawab. Dia menjawab dengan mantap dan dengan pandangan mata berbinar seolah cita-citanya itu telah ada di depan mata. Saya melihat di kedalaman matanya. Di sana cita dan harapan yang besar. Di sana ada kepercayaan diri. Hal-hal yang tidak dapat saya temukan dari anak-anak yang lain. (Bukan berarti saya ga’ merhatiin yang lain ya!)

Hal itulah yang kemudian membuat saya bertanya lagi, “Kemarin ranking berapa?”, dan dia kembali menjawab dengan mantap “Ranking 2”.

Hmm…pantesan. Dia memang punya potensi untuk itu. Berarti tidak terlalu masalah dengan potensi pribadinya. Yang justru saya khawatirkan adalah kondisi lingkungan sekitarnya. Kampung Pojok memang masih dalam wilayah Bandung, tidak terlalu jauh dari pusat kota dibandingkan kampung-kampung terpencil di berbagai daerah di Indonesia. Tapi saya tidak menyangka ketika ternyata di kampung ini hanya ada 4 anak yang saat ini melanjutkan sekolah hingga jenjang SMA. Kuliah? Nol besar.

Itu tadi kondisi pertama. Yang artinya tidak cukup banyak orang di sekitarnya yang mampu memberikan inspirasi untuk melanjutkan sekolah hingga tingkat perguruan tinggi. Masalah kedua adalah dia seorang wanita. Seperti halnya di kampung-kampung, paradigma mereka adalah seorang wanita itu harusnya kerja di dapur saja, ngasuh anak, ga usah sekolah tinggi, jadi ya usia belasan sudah dinikahkan. Hal ini terbukti di sana ketika kemudian saya tahu bahwa anak-anak pengajian itu ibunya masih relatif muda. Salah satunya, seorang ibu berusia 19 tahun mengantar anaknya yang berusia 2 tahun. Bukan berarti saya ga setuju dengan pernikahan dini (saya sendiri menikah di usia muda) atau tidak setuju dengan kodrat wanita untuk mengasuh anak. Yang saya khawatirkan adalah terbengkalainya potensi, cita-cita, dan harapan yang mereka miliki. Wanita pun memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan hingga jenjang yang tinggi. Meskipun saya lebih setuju ketika pada akhirnya para ibu memilih untuk kembali ke rumah daripada mengejar karir. Karena justru di sinilah letak kelebihannya. Anak-anak yang terlahir akan diasuh oleh para ibu yang luar biasa.

Masalah berikutnya lebih klise lagi, ekonomi. Biaya kuliah kedokteran hingga saat ini masih termasuk biaya kuliah yang paling mahal. Dengan kondisi perekonomian warga Kampung Pojok yang sebagian besar hanya petani penggarap, hal ini pasti akan sangat berat. Beasiswa dapat menjadi salah satu harapan terurainya mimpi menjadi nyata. Sialnya, warga kampung tidak semudah kita dalam mendapatkan informasi tersebut. Padahal, saat ini beasiswa mulai banyak bertebaran (saya sendiri kuliah master dapet beasiswa full).

Hmm. Ironis ya. Lebih ironis lagi kalau saya cerita lebih banyak tentang kondisi Kampung Pojok. Tapi itu sih sudah diceritain di note tetangga.

Kisah ini baru dari satu kampung dan dari satu Mela. Dan kita semua tahu, masih ada begitu banyak anak dari berbagai daerah di Indonesia yang menghadapi masalah serupa, bahkan mungkin jauh lebih berat.

So. Kita bisa apa nih? Banyak lah yang bisa kita lakukan. Salah satunya gabung bareng kami jadi volunteer dalam berbagai gerakan kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat di Salman ITB. Hehe… promosi ujung-ujungnya. Tah papah. Makin banyak yang gabung, makin seneng sayah.

So, tunggu apa lagi? Be a Guardian of Dreams.

 

- tulisan ini merupakan catatan perjalanan ke kampoeng pojok mekarsari, lembang yang merupakan bagian dari gerakan kampoeng bangkit yang digagas rumah amal salman itb

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.