Akim – Aerodinamika, CFD, Ksatria Baja Hitam
Nama Indonesianya: Yulianto Suteja Sutopo. Nama asli Cinanya tak tahu awak. Yang pasti, Akim. Akim nih salah seorang kawan yang membuat pandanganku terhadap warga keturunan berubah. Terus terang, sebelum kenal ni anak, aku berpikiran negatif terhadap mereka. Mungkin sentimen rasial atau sekedar iri atas keberhasilan mereka menguasai bidang ekonomi, atau sikap sebagian mereka yang terlihat eksklusif. Tapi tidak dengan Akim. Bahkan aku tidak menyangka dia bisa segila yang aku kenal sekarang.
Mulai cerita dari mana yah? Hmmm… akim itu… tinggi, putih, sipit. (Parah lu sefs, maenannya fisik). Yah itu yang paling gampang diinget dari dia. Kelebihan fisiknya itu dia manfaatkan dengan baik di lapangan voli. Blocking, smash, beuh… dahsyat. Lumayan buat tim voli KMPN dan angkatan. Btw, kenapa kau tak pilih basket saja, kim? (lagi…)
Erik, hilang di antara kehidupan
Erik itu sohib pertama awak. Waktu pertama ketemu, anak panah maenan awak nyaris kena dia. Lagian, awak lgi seru”nya manah dia lewat (pembelaan nih). kelas 3 SD tuh. Sebelumnya dia tinggal di Tasik. Yang kerennya tuh, awak sama Erik nih sohib generasi ketiga di keluarga kami. Jadi, kakek awak dan kakek dia temen deket, trus ibu awak sama ibu-nya sohiban juga. Nah, yang generasi keempat anak dia bakalan temenan sama anak sepupu awak. Kebetulan seumur n sama” cewek. Knapa ga’ sama anak awak? Yaa…. istri aja belum ada. (lagi…)
Kawan, Teman, Sohib, Sahabat…
Yeah… finally I write again. Dah lama banget sejak terakhir nge-blog. Maklumlah, amatiran. Masih belum bisa konsisten nulis. Awak pengen banget nulis lagi di blog ini, tapi kadang suka bingung mau nulis apa. Dan akhirnya, setelah pikir panjang-panjang di atas kloset (kebiasaan buruk bukan ya?) ditambah pikir baik-baik pas lagi sholat (ga’ khusyu deh), awak memutuskan untuk nulis tentang sohib” awak sejak jaman SD. Pengennya sih sejak TK, tapi apalah daya memori tak cukup.
Knapa bgini? Karena begitu! Jadi begini, kawan! Setelah awak inget” lagi (seperti biasa, di atas kloset), ternyata temen awak tuh banyak betul dan Alhamdulillah baik semuanya. Yang jadi masalah, awak tuh pelupa… banget. Sering tuh yah kalo lagi jalan tiba” ada yang nyapa.
Kawan (K): “Lho, septian yah?”
sefs (7): “Iya.” (sambil mikir, siapa yah)
K: “Wah, dah lama ga ktemu. makin keren aja” (ini sih narsisnya awak aja)
7: “Iya nih…” (masih belum inget)
dst… dsb…
Nah, karena memori awak yang kadang error inilah awak pengen nulis ttg mreka. Padahal mreka tuh hebat”, sayang klo ga di-dokumentasi-kan. Oya satu lagi, selama awak hidup, awak belajar banyak hal dari kawan”. Tanpa mereka, apalah artinyo awak ni. (beuh, pilosopis pisan)
Mulai dari mana yah? Dari temen kecil aja deh. Ga berurutan dri yang paling keren. jdi yg ditulis dluan jangan sombong, trus yg belum ditulis, jangan nangis. OK…



komen anyar