sefs itu…
…orang biasa yang selalu berharap dan berusaha untuk menjadi luar biasa. Lahir di kaki gunung Tampomas, Sumedang, membuat dia begitu mencintai keindahan alam dan kota kecilnya itu. Meski sempat tinggal 5 tahun di Tangerang, kota sebelah ibukota yang panas, dan saat ini tinggal di kota kembang, dia masih dengan bangganya bilang “Kawula USA (Urang Sumedang Asli)”.
Sejak SD sampai SMP, dia termasuk anak yang lemah, sedikit introvert, cupu, dan selalu berada di balik bayang-bayang temannya. Menyedihkan memang, tapi sang teman masih tetap mau bergaul dengan dia, dan sedikit demi sedikit mulai mengubah karakternya. Perubahan yang drastis terjadi saat dia kembali ke Sumedang, masa SMA. Dia berubah menjadi remaja yang dinamis, extrovert, bahkan terkadang banci tampil. Cukup banyak ekskul yang dia ikuti, mulai dari KIR, pencak silat, GDS, dan yang paling membentuk karakternya saat ini, pramuka.
Tahun 2003, dia berhasil mewujudkan salah satu cita-cita masa kecilnya, masuk Teknik Penerbangan ITB. Bangga banget dong, karena hanya 3 orang yang berhasil masuk kampus itu dari sekolahnya. Satu orang finalis Olimpiade Fisika tingkat nasional, satu orang juara kelas (dari kelas 1-3), satu lagi… orang ini, yang prestasi akademik di sekolahnya biasa-biasa aja. Ditambah lagi, di saat orang lain harus bayar mahal untuk kuliah di kampus ini, bisa-bisanya dia dapet rezeki (baca: beasiswa) gratis SPP 1 tahun, SPMB pun dibayarin. Subhanallah.
Saat kuliah, sempat bergabung dengan Majelis Ta’lim Salman, yang membuat dia sedikit lebih alim dan ngerti soal agama (Islam). Gabung juga di KMPN (himpunan-nya penerbangan) juga di Asrama Bumi Ganesha, yang membuat dia semakin ‘garing’ dan asing dengan makhluk bernama wanita (tapi tetap merindukannya). Sebenarnya, di tahun ke-4, semua mata kuliahnya sudah habis, tapi hingga tahun ke-5, di masih betah di kampus. Banyak main memang, tapi di tahun ini pula dia mulai menyadari jati dirinya. Dia sadar bahwa dia lebih senang kerja lapangan daripada kantoran, lebih senang jadi guru daripada jadi insinyur, lebih senang coreldraw dan photoshop ketimbang matlab, lebih senang jalan-jalan ketimbang nongkrong di depan komputer, dll, dsb. Perubahan lagi. Dia memang terlalu dinamis untuk dunia yang statis.
Selama dua tahun setelah lulus S1, dia memilih untuk jadi relawan kemanusiaan di masjid kampusnya. Sebuah pilihan yang berat tapi tidak pernah disesalinya. Selama itu juga dia melanjutkan studi S2 di kampus yang sama tapi bidang studi yang berbeda. Dua tahun tersebut merupakan tahun yang dinamis, tahun-tahun penuh perubahan dan petualangan. Berkelana dari satu lokasi bencana ke lokasi bencana yang lain, bersahabat dengan orang-orang hebat, dan tentu saja… menikah
Tahun 2011 dia mulai memasuki dunia profesional, dan pilihannya adalah menjadi guru, salah satu profesi yang dicita-citakannya. Dikira akan ditempatkan sebagai guru SMA, ternyata malah jadi guru di semua level (SD, SMP, SMA). Padahal sebelumnya jarang banget ngurus anak-anak. Maka, masa-masa ini menjadi masa-masa untuk belajar kembali. Ya, belajar. Karena dia tahu pasti, karena mengajar adalah level tertinggi dalam proses belajar.
Pada akhir tahun 2011, kebahagiaannya bertambah seiring kelahiran putri pertamanya.
Yaaa… itulah sefs…
sefs yang dulu rendah diri, saat ini malah overconfident. Dengan pemikiran ‘you can do what you want, you are what you think‘, dia selalu melakukan hal-hal di luar perkiraan, meski seringkali tidak bisa fokus pada suatu hal yang penting.
“Believe in ALLAH… and He will show you the way!”



Selamat kang, jadi sarjana teknik penerbangan!
April 19, 2009 pada 4:42 pm
thanx. oya, kuliahnya ga usah lama2 kaya’ saya
Juni 17, 2009 pada 9:47 pm
Halo Septian,Tulisan Anda bagus sekali. Mahasiswa ITB juga kan ? Wah
Jika berkenan meluangkan waktu dan pengalamannya, mohon bisa dibagi di web user generated http://www.masukitb.com.
masukitb adalah tampilan kehidupan Kampus Ganesha ITB, wadah bertanya, berdiskusi, dan berinteraksi, antara para mahasiswa atau alumni ITB, dengan para pelajar yang berminat menjadi bagian dari komunitas ITB.
Kami berharap, Anda mau berbagi dengan pelajar dari seluruh Indonesia, yang berminat masuk ITB.
Terima kasih
September 29, 2011 pada 8:16 pm